Sabtu, 30 Mei 2009

Garut Bukan Sekedar Kota Dodol


Garut, kota di tenggara Bandung sudah amat kesohor. Terutama makanan khasnya dodol. Namun ternyata kota ini juga punya pesona alam yang memikat selain potensi wisata sejarahnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 WIB, kami pun turun dari Tangkuban Perahu untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Garut. Kota yang sangat terkenal dengan pangannya berupa dodol. Siapa pun yang berkunjung ke Garut, pasti tidak lupa membawa dodol sebagai oleh-oleh. Ternyata hampir sama dengan Subang, di Kota Garut banyak sekali objek wisata yang dapat dikunjungi dan sangat menarik. Banyak yang tidak mengetahui kalau di Kota Garut terdapat candi umat Hindu yang dibangun pada abad ke-8. Candi itu dikenal dengan sebutan Candi Cangkuang, karena terletak di tengah-tengah Danau Cangkuang.


Kota Garut sendiri terletak sekitar 63 km di Tenggara Kota Bandung. Kota ini merupakan daerah dataran tinggi yang dikelilingi sejumlah puncak gunung yang sebagian besar merupakan gunung vulkanis. Karena Garut dikelilingi gunung vulkanis membuat daerah Garut menjadi kawasan pertanian yang sangat subur.

Untuk menuju kota Garut, dari Bandung kita masuk tol Cileunyi lalu masuk ke daerah Nagrek. Dari Bandung sendiri perjalanan menuju kota Garut memakan waktu sekitar 2 jam kurang. Saat memasuki Kota Garut, akan ditandai dengan gapura selamat datang. Lalu jalan beberapa meter kemudian, akan terlihat tugu Kota Intan yang terletak di daerah Tarogong. Tugu ini menyerupai intan berlian yang duduk di atas tahtanya. Tugu ini merupakan simbol dari kota Garut. Juga bisa merupakan moto Garut sebagai kota yang Indah, Tertib, Anyam dan Nyaman (Intan).

Sesampainya di kota ini, tujuan pertama kami bukan mencari dodol, tetapi menuju ke sebuah perkampungan modern tempat melepas lelah. Ya.. Kampung Sampireun, suasana desa yang sangat unik. Kampung ini terletak di Jalan Raya Samarang- Kamojang, Garut.


Perjalanan dari Bandung menuju Garut kami lalui dengan cukup lancar, pemandangan yang berada di sebelah kanan dan kiri kami sungguh sangat memanjakan mata dan menenangkan pikiran. Kami melewati jalan berliku dengan pemandangan yang tidak kalah indahnya.


Candi Cangkuang
Siang esok harinya, kami bertolak menuju objek wisata lainnya. Perjalanan saat itu menuju Candi Cangkuang. Candi ini terletak di 10 km Utara Garut di dekat Leles. Candi ini berasal dari abad ke-8 dan merupakan salah satu candi peninggalan umat Hindu yang terdapat di Jawa Barat. Uniknya, candi ini terletak di tengah danau Cangkuang.

Untuk menuju ke kawasan candi, kami harus melewati jalan yang terjal dan berliku sepanjang 4 kilometer. Jalan yang kami susuri pun sangat kecil dan hanya cukup untuk untuk satu mobil saja. Jadi wajar, saat berpapasan dengan mobil lain yang beda arah, mobil lainnya harus mengalah masuk ke dalam semak-semak atau keluar sementara dari jalan. Memang melelahkan. Namun, pemandangan alam yang alami dan sangat desa ternyata cukup menghibur semangat kami untuk tetap bertahan.

Akhirnya kami tiba juga di kawasan Candi Cangkuang. Tapi, untuk memasuki kawasan candi, kami harus menyeberangi danau dengan menggunakan rakit yang telah disediakan oleh pihak pengelola. Penyeberangan memakan waktu tidak lebih dari lima menit Dari kejauhan, dapat terlihat kawasan candi yang menyerupai bukit kecil dan terlihat sangat rimbun ditumbuhi oleh pepohonan. Setelah merapat, kami langsung turun dari rakit, menyusuri jalan setapak yang dibuat tangga dari batu-batu alam.

Cipanas

Cipanas merupakan objek wisata yang terkenal di kota Garut. Dia terletak di 6 km Barat Laut (BL) kota Garut, tepatnya di kaki Gunung Guntur. Kawasan wisata yang relatif kecil ini memiliki sumber mata air panas yang disalurkan ke kolam-kolam dan pemandian yang terdapat di berbagai penginapan di Cipanas. Tempat ini biasanya menjadi base (pangkalan) sebelum menjelajahi beberapa objek wisata lain di sekitarnya.

Sekitar 3 km dari Cipanas melalui jalan yang mendaki ke arah Gunung Guntur terdapat air terjun Curug Citiis. Dari lokasi air terjun ini wisatawan dapat melanjutkan pendakian selama 4 jam ke puncak Gunung Guntur. Air panas di daerah Cipanas ini berbeda dengan air panas yang ada di Ciater.

Di Cipanas, air hangat yang disalurkan ke objek-objek wisata sama sekali tidak mengandung unsur belerang, tetapi mengandung unsur yodium. Dapat dibayangkan bagaimana khasiat dari air hangat tersebut.

Air yang ada di Cipanas, seolah tidak akan ada habisnya, selalu mengalir dan mengisi bak-bak penampungan air tempat-tempat yang ada di sekitarnya. Tidak heran sepanjang daerah Cipanas, banyak sekali penginapan-penginapan yang menjadikan air panas sebagai daya tarik utamanya. Karena memang daerah tersebut merupakan sumber air hangat di Garut.

Siang itu terbilang cukup ramai di kawasan Cipanas. Banyak pengunjung yang datang untuk sekadar melepas lelah dengan berendam di kolam air panas. Karena harganya yang relatif murah, maka banyak warga sekitar yang sering berkunjung ke sini, entah untuk bersantai atau hanya sekadar berkumpul dengan teman-teman.

Adu Domba

Rasanya ingin berlama-lama berendam air hangat di Cipanas, tetapi ada acara lain yang sungguh sayang bila dilewatkan begitu saja. Karena acara ini biasanya dilaksanakan tiap musim panas atau setiap bulan Juni saja, yaitu adu domba atau pertarungan dua domba jantan.

Acara kali ini diadakan di kota Garut, tepatnya di lapangan Rancabango-Tarogong. Dalam acara ini yang diperlombakan antara lain, adu ketangkasan dan kontes domba. Jadi tidak hanya adu domba saja yang digelar, tetapi juga kontes domba pedaging terbaik dan domba betina tersehat.

Acara dilaksanakan pada tanggal 10-11 Juni 2006. Dengan diiringi suara gendang, gong serta teriakan dari penoton yang memberikan semangat, dua ekor domba yang memiliki tanduk kuat saling bertarung dengan membenturkan kepala mereka sebanyak 20 hingga 25 kali.

Pertandingan diatur oleh seorang wasit yang akan memutuskan pemenang dari pertarungan ini. Pesertanya sendiri tidak hanya datang dari Garut saja, tetapi hampir dari seluruh kota di Jawa Barat. Seperti Bandung, Tasikmalaya, Cianjur, Cirebon dan lain-lainnya.

Pagi itu, saat tiba di lapangan Rancabango, kami melihat lapangan telah dipadati oleh para domba yang diikat ke sebuah pasak yang terbuat dari bambu. Mereka juga dipisahkan berdasarkan berat badan dan jenis kelaminnya.

Sekilas, memang kumpulan domba yang diberi berbagai pernak pernik tersebut memang lucu. Namun, naluri petarungnya muncul begitu mereka melihat domba lain yang melintas di hadapannya. Aksi saling seruduk pun dimulai, tapi tak sampai parah, karena keburu dipisah oleh empunya, karena pertandingan belum dimulai.

Tepat pukul 08.00 WIB pertarungan dimulai. Dua domba yang telah diumumkan namanya maju ke arena diseret pemiliknya masing-masing. Arena tersebut dikelilingi oleh tiga orang penilai dan satu orang wasit yang berada di tengah lapangan. Lama pertandingan berlangsung sekitar 3 menit, dan biasanya domba-domba tersebut membenturkan kepalanya sebanyak 20 hingga 25 kali.

Namun, sebelum jumlah benturan terlaksana, wasit berhak menghentikan pertarungan, bila dilihatnya salah satu domba telah mengalami cedera. Bahkan, jika terlihat parah, domba tersebut bisa saja dieksekusi agar tak menderita lebih lama.

Domba yang akan bertarung selalu diiringi dengan gamelan, begitu mereka mendengar alunan gamelan dengan otomatis mereka akan segera mengambil posisi masing-masing. Dalam hitungan detik kedua domba itu berlari ke arah lawan masing-masing dengan kecepatan tinggi, lalu terdengarlah bunyi benturan tanduk yang sangat keras.

Ada beberapa domba yang terlihat pusing, karena begitu bertabrakkan domba itu diam di tempat sambil menggoyangkan kepalanya. Lalu ketika gamelan tersebut mulai mengeluarkan suaranya lagi, maka kedua domba itu kembali mengambil posisi menyerang.

Di atas podium dekat para pemain gamelan, ada seseorang yang bertugas menghitung berapa kali domba-domba tersebut membenturkan kepalanya. Bila sudah mencapai angka 20-25 kali, dengan otomatis wasit akan meniup peluit tanda pertandingan berakhir.

Sumber: 
Majalah Travel Club, dalam :
30 Mei 2009

Sumber Gambar:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar